Terkait Penggalangan Dana Aksi Mahasiswa, Ini Fakta Penangkapan Ananda Badudu

    0
    108

    JAKARTA, Mantan Wartawan sekaligus Vokalis Banda Neira, Ananda Badudu ditangkap polisi di kediamannya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (27/9/2019).

    Penangkapan tersebut terkait penyerahan dana untuk aksi demonstrasi mahasiswa. Ananda sempat menggalang donasi untuk aksi para mahasiswa di depan Kompleks Parlemen Senayan pada 23-24 September 2019.

    Aksi tersebut untuk memprotes revisi UU KPK, RKUHP, hingga revisi UU Ketenagakerjaan. Penggalangan itu dilakukan Nanda melalui situs kitabisa.com sejak Minggu (22/9/2019).

    Merangkum beberapa fakta terkait penangkapan Ananda Badudu. Begini Kronologi Penangkapan Ananda Badudu Setelah diperiksa penyidik Polda Metro Jaya yang kemudian membebaskan Ananda Badudu.

    Dijemput subuh

    Manajer Kampanye Amnesty International Indonesia Puri Kencana mengatakan, Ananda dijemput polisi dari tempat tinggalnya di kawasan, Jakarta Selatan. “(Pukul) 04.00 WIB, Ananda Wardhana Badudu sedang tertidur di kosnya.

    04.25 WIB ada tamu menggedor-gedor pintu kamar, lalu dibuka oleh kawan Nanda,” kata Puri saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat pagi. Rupanya, tamu yang berjumlah empat orang itu adalah penyidik Polda Metro Jaya. Mereka dipimpin polisi bernama Eko. Ananda ditunjukkan secarik kertas berwarna kuning yang diduga surat penangkapan atas dirinya.

    Ditangkap tanpa perlawanan

    Aziz, selaku sekuriti tempat Ananda tinggal menceritakan, polisi telah menunggu di dalam mobil yang terparkir di luar rusun. Setelah menunggu cukup lama, polisi tersebut menghampiri salah satu teman Aziz yang juga sebagai sekuriti. “Terus tiba-tiba orang Polda nyamperin temen saya, dikasih foto (Ananda) gitu, yang jaga di bawah bilang ‘kenal,” kata Aziz saat ditemui di rusun.

    Tiga sekuriti kemudian mendampingi polisi untuk menghampiri kamar Ananda. Saat pintu kamarnya diketuk, teman dari Ananda membuka pintu. “Jadi dalam ruangan ada dua orang, yang buka pintu temannya. Terus Polda ngasih surat gitu ke temannya,” kata dia.

    Menurut Aziz, Ananda kooperatif saat dijemput polisi. “Nurut saja dibawa, enggak ada marah-marah kayak gitu enggak ada, dia ikut saja langsung,” ucap dia.

    Respons keras masyarakat

    Penangkapan Ananda Badudu dan Dandhy Dwi Laksono dalam kasus yang lain langsung mendapatkan perhatian publik. Publik geram karena polisi sudah melakukan langkah –langkah penangkapan aktivis yang keras mengkritisi pemerintah.

    Direktur LBH Masyarakat, Ricky Gunawan menyebut, saat ini kebebasan sipil masyarakat memang sedang dibungkam. “Penangkapan sewenang-wenang terhadap Dhandy dan Ananda adalah upaya membungkam kebebasan sipil masyarakat.

    Padahal, keduanya bekerja secara damai dan tidak mempromosikan kekerasan,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (27/9/2019) siang. Hal ini sekaligus membuat siapa saja berpikir bahwa kebebasan berpendapat di negeri ini perlahan mulai dihilangkan.

    Hal yang sama juga disuarakan kalangan mahasiwa. Presiden BEM Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI 2018-2019 Ghozi Basyir mengkritik keras tindakan polisi menangkap Ananda Badudu. “Kenapa begitu? Ini kan niatnya baik.

    Dan membantu mahasiswa. Mahasiswa ini kan yang turun aksi kan dari daerah. Dari berbagai daerah,” ujar Ghozi melalui sambungan telepon. Ghozi menambahkan, mahasiswa menggunakan dana yang dihimpun tersebut untuk keperluan konsumsi. Ia membantah bila mahasiswa memakai dana tersebut untuk tindakan anarkistis seperti membayar massa.

    Ananda dibebaskan

    Setelah diperiksa beberapa jam, Ananda Badudu dipulangkan penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Ananda hanya diperiksa sebagai saksi tentang aliran dana kepada mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI .

    Ananda keluar dari gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jumat pukul 10.17 WIB. Saat keluar, Ananda mengatakan, pembebasan dirinya merupakan bentuk jaminan hukum yang hanya dapat dinikmati segelintir orang.

    Ketika keluar, Ananda mengatakan masih banyak mahasiswa yang ditahan di dalam namun tidak mendapat pendampingan hukum yang lain. “Saya salah satu orang yang beruntung punya privilege untuk bisa segera dibebaskan.

    Tapi di dalam saya lihat banyak sekali mahasiswa yang diproses tanpa pendampingan, diproses dengan cara-cara tidak etis. Mereka butuh pertolongan lebih dari saya,” ujar Ananda sambil menahan tangis.

    Transfer Rp 10 juta

    Polisi mengatakan, Ananda Badudu mentransfer uang senilai Rp 10 juta kepada mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR.

    Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, informasi terkait aliran dana tersebut disampaikan mahasiswa yang telah ditetapkan tersangka oleh penyidik Polda Metro Jaya. “Awalnya ada massa demo yang dijadikan tersangka karena melawan petugas.

    Dari hasil pemeriksaan, tersangka mendapat transfer (uang) Rp 10 juta dari saksi (Ananda Badudu),” ujar Argo saat dikonfirmasi, Jumat (27/9/2019). Argo memastikan Ananda hanya dimintai klarifikasi sebagai saksi terkait aliran dana itu saat dia diperiksa polisi Jumat pagi.