Menyigapi Sejarah Dan Tren “Berhijrah”

0
147

Oleh : Profesor Dr H Mujiburrahman MA
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

Mengapa kita sering lupa pada tahun baru hijriah? Mungkin karena kita selalu mengikuti penanggalan masehi (terutama tanggal menerima gaji).

Dalam alam pikiran kita, penanggalan hijriah lebih dimaknai secara keagamaan ketimbang duniawi, sehingga kita baru mengingatnya untuk perayaan hari-hari besar Islam, Ramadan, Idulfitri dan Idul adha. Karena itu, jarang terdengar adanya ‘pesta’ tahun baru hijriah.

Mungkin, nuansa keagamaan tahun hijriah itu pula yang membuat pemaknaan hijrah di kalangan anak-anak muda zaman now lebih mengarah kepada pengalaman keagamaan pribadi ketimbang peristiwa kemasyarakatan yang amat penting dalam sejarah Islam.

Ketika disebut “dia sudah hijrah” maknanya adalah, dia sudah berubah dari tidak atau kurang taat pada agama kepada taat. Dia sudah bertaubat.

Istilah ‘hijrah’ sebagai ungkapan perubahan keagamaan yang bersifat pribadi tersebut tampaknya makin populer karena digaungkan oleh para ustadz muda yang sering viral di media sosial, dan diperkuat oleh siaran infotainment yang menampilkan para artis yang dianggap sudah berhijrah.

Jika dia perempuan, dia memakai jilbab. Jika dia lelaki, mungkin memakai baju koko atau berjenggot.

Sesederhana itukah? Ya, karena itu yang tampak di mata.

Adapun yang lebih jauh seperti pengetahuan, pengamalan dan penghayatan keagamaan lainnya memang belum tentu. Namun, secara keagamaan, ini adalah langkah awal yang baik.

Hanya saja, karena ‘saleh mendadak’, orang bisa dengan cepat berubah pula. Yang sudah berjilbab, kembali melepas. Yang sudah mulai rajin salat, kembali meninggalkannya.

Sebaliknya, kadangkala setelah ‘berhijrah’, orang merasa dirinya sudah benar-benar saleh. Orang lain yang tidak sepaham dianggap tidak saleh dan calon penghuni neraka.

Akibatnya, dia dan kawan-kawan suka mencaci-maki orang yang tidak meneruskan ‘hijrah’-nya. Misalnya, di media sosial, mereka tak segan-segan menghabisi artis yang sempat tampil berjilbab tetapi kemudian kembali melepaskannya. Demikianlah, hijrah yang dimaknai sebagai kesalehan pribadi berubah menjadi kesalehan publik yang cenderung dangkal.

Hijrah yang dalam wacana ini diartikan sebagai taubat, yakni kembali kepada Allah, menyesali dosa-dosa dan tidak akan mengulangi lagi, berubah menjadi penghakiman publik. Padahal, taubat itu urusan pribadi orang dengan Allah.

Mengapa kita begitu percaya diri untuk ikut menghakimi? Pangkal masalah ini adalah kedangkalan dalam memahami agama. Seolah keberagamaan itu masalah yang sekali selesai untuk selamanya. Padahal, keberagamaan adalah suatu proses perjalanan diri yang terus-menerus.

Kita tidak tahu apakah kita ini baik atau jahat di mata Allah hingga akhir hayat.

“Jangan kamu sok suci. Dia (Allah) yang lebih tahu siapa yang bertakwa,” kata Alquran (QS 53:32).

Wacana hijrah sebagai taubat juga cenderung melupakan hijrah sebagai peristiwa sejarah Islam, yang seharusnya menjadi mata air hikmah dan pelajaran hidup bagi kaum Muslim.

Akibatnya, keberagamaan kita menjadi ahistoris, terlepas dari pergumulan manusia dalam kehidupan sosial yang nyata. 
Agama seolah-olah menggantung di awan, tak tersentuh sama sekali dengan persoalan-persoalan di bumi.

Coba bayangkan, di bawah terik matahari yang membakar, di tengah gurun pasir dan gunung-gunung batu, orang rela menempuh perjalanan sejauh 457 km dengan mengendarai onta, meninggalkan harta dan keluarga yang mereka cintai.

Pemimpin mereka hampir saja terbunuh melalui sebuah konspirasi dan iming-iming hadiah 100 ekor onta. Namun setelah sampai di tujuan, mereka disambut dengan suka cita.

Itulah gambaran amat singkat tentang hijrah dalam sejarah. Bagi Nabi dan para sahabat, hijrah bukan sekadar taubat dari dosa-dosa, melainkan suatu transformasi moral-spiritual dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.

Hijrah bukan beragama secara instan, yang mudah datang dan pergi. Hijrah adalah keluar dari kesempitan menuju kelapangan, dari sekat-sekat kesukuan kepada titik temu kemanusiaan.

Karena itu, bukan kebetulan jika khalifah Umar bin Khattab menetapkan kalender masyarakat Islam bukan berdasar kelahiran atau kematian sang Nabi, melainkan hijrahnya dari Mekkah ke Medinah!