Kemarau Panjang Berpotensi Meluasnya Krisis Air di Bogor

0
107
ilustrasi kekeringan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Dramaga memperkirakan puncak musim kemarau di wilayah di Bogor, Jawa Barat akan terjadi hingga dua bulan mendatang.

Selama puncak musim kemarau, matahari akan lebih terik, kering, dan temperatur udara akan naik. Kondisi tersebut diperkirakan membuat daerah yang berpotensi mengalami krisis air di Bogor bertambah luas.

“Puncak musim kemarau di Bogor berlangsung Agustus-September. Tapi potensi kemarau diperkirakan sampai November,” kata Hadi, Jumat (2/8/2019).

Meskipun baru memasuki puncak musim kemarau, BMKG menyebutkan sudah terdapat hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori ekstrem (lebih 60 hari) yang terpantau di beberapa wilayah Timur Kabupaten Bogor, di antaranya Kecamatan Jonggol dan Tanjungsari.

Wilayah Jonggol misalnya, kurang lebih dua bulan terakhir mengalami kekeringan. Dampak kemarau panjang menyebabkan wilayah itu mengalami krisis air dan lahan padi gagal panen.

“Sementara daerah lainnya masih dalam kategori di bawah wilayah timur Kabupaten Bogor,” kata Hadi.

Berdasarkan pengamatan Stasiun Klimatologi Dramaga, Kota Hujan akan mengalami suhu panas hingga mencapai 33,7 derajat Celsius. Gelombang panas itu diperkirakan akan berlangsung sepanjang Agustus ini.

“Temperatur udara di angka 33,7° C juga pernah terjadi beberapa hari di bulan Juli. Sementara normalnya 22-28° C,” ujar Hadi.

Meski demikian, gelombang panas dengan 33° C yang sedang menerpa wilayah Bogor masih dianggap normal. Baru dikatakan ekstrem jika gelombang penas melebihi 3° di atas normal.

“Masih batas normal, tapi untuk wilayah Bogor ya termasuk sudah panas,” terang Hadi.