Ismarofi, Pelopor Kampung Kerajinan Batok Blitar Yang Mendunia

0
132

Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, kini dikenal sebagai kampung kerajinan batok. Bermacam kerajinan dari bahan limbah batok atau tempurung kelapa diproduksi dan menjadi ladang rejeki bagi warga kelurahan ini.

Ismarofi (43) menjadi salah satu tokoh yang mengubah wajah Kelurahan Tanjungsari hingga dikenal sebagai kampung batok. Bapak dua anak ini merupakan orang pertama, sekaligus yang memelopori kerajinan batok di lingkungannya.
Kini, kerajinan batok menjadi salah satu produk unggulan di Kota Blitar.

“Saat memulai ini, saya hanya berpikiran ingin membuat kerajinan yang memberi manfaat ke masyarakat sekitar,” kata Ismarofi.

Rofi, demikian warga bisa memanggail Ismarofi, siang itu mengutak-atik mesin bor di teras belakang samping rumahnya.
Rofi terlihat sedang menggerinda mata bor.

Dia harus memodifikasi sendiri mata bor untuk keperluan membuat lubang pada lempeng batok yang sudah dipotong kecil-kecil. Dengan ramah, ia mempersilakan Surya masuk ke rumah.

“Saya memodifikasi sendiri mata bor agar tidak pecah untuk melubangi batok yang sudah dipotong kecil,” ujar Rofi.

Rofi menjadikan rumahnya sebagai tempat produksi berbagai macam kerajinan batok. Mulai pekarangan belakang rumah sampai teras rumah terlihat sejumlah pekerja.

Di belakang rumah, terlihat pekerja sedang memotong batok menjadi bagian kecil-kecil. Di halaman samping, tempat pekerja memernis dan menjemur kerajinan yang sudah setengah jadi.

Sedangkan di teras rumah samping dan depan, terlihat beberapa perempuan sedang merangkai batok menjadi kerajinan tas. “Saya punya beberapa jenis kerajinan dari batok. Tapi yang utama kerajinan tas berbahan batok,” ujarnya.

Rofi, mulai menekuni kerajinan tas batok sejak 1999. Dengan modal utangan Rp 2 juta, ia membeli alat seperti gergaji duduk dan bor. Selama tiga bulan, ia memelajari cara memotong dan mengebor batok agar bisa dirangkai menjadi tas.

“Ide awalnya, saya lihat ada tetangga yang berjualan souvenir di Makam Bung Karno. Dia punya dagangan tas batok. Dari situ, saya kepikiran untuk mencontoh membuat kerajinan tas batok,” katanya.

Rofi belajar secara otodidak. Pengalamannya sebagai tukang kayu menjadi modal memoles limbah batok menjadi kerajinan bernilai seni tinggi. Ujicoba berhasil. Ia sukses membuat tas batok. Tapi ia kemudian terkendala pada pemasaran.

Butuh waktu enam bulan ia mengenalkan handicraft karyanya itu. Ia bawa tas batok unik itu ke pedagang-pedagang souvenir yang biasa mangkal di tempat wisata Makam Bung Karno.

Perlahan karyanya diterima pasar, hingga akhirnya mampu menembus pasar Eropa, seperti Belanda dan Rusia. 

Keuletan dan kegigihan Rofi membuat kerajinan tas batok membuahkan hasil. Kini kerajinan tas batok miliknya berkembang pesat. Pesanan tas batok dari luar daerah terus mengalir tiap bulan. Mulai dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Aceh, Sulawesi, hingga Kalimantan.

Tak hanya itu, berkembangnya teknologi, juga membuat pemasaran tas batoknya dapat menjangkau ke luar negeri. 
Ia memasarkan tas batoknya lewat sosial media.

Dampaknya, banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di luar negeri memesan untuk di jual lagi di luar negeri. Mulai dari Hongkong, Singapura, Belanda, bahkan sampai Rusia.

Produksi tas batoknya juga terus bertambah. Jumlah pekerja juga bertambah banyak mencapai 43 orang. Pekerjanya rata-rata tetangganya sendiri. Jenis produksinya juga bertambah. Selain tas, ada gantungan kunci, tempat tisu, dan tempat lampu.

Harga kerajinan tas batok milik Rofi juga tergolong murah mulai Rp 50.000 per biji hingga Rp 100.000 per biji. Dengan modal utangan awal Rp 2 juta itu, sekarang omzet bisnis kerajinan tas batok milik Rofi mencapai Rp 50 juta per bulan. Omzet itu belum dipotong gaji karyawan, pembelian bahan baku, dan biaya produksi lainnya.

Rofi bersyukur usaha kerajinan batok miliknya berkembang pesat. Tapi, dia lebih bersyukur lagi dapat menciptakan peluang kerja bagi para tetangganya yang menganggur. Dengan berkembangnya usahanya, otomatis tenaga kerja yang dibutuhkan juga bertambah.

“Setidaknya niat awal saya membuat kerajinan yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar sudah terwujud. Ini sebagai sodaqoh saya di akhirat,” tegasnya.