Hanya Dengan Batok Kelapa Pengrajin ini Meraup Puluhan Sampai Ratusan Juta Rupiah

0
116

Melihat limbah batok (tempurung kelapa) yang melimpah di Kota Blitar, Ismarofi (42) memutar otak. Dengan modal Rp 2 juta pinjaman dari tetangga, warga Jl Kaliglagah 48 Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo Kota Blitar ini mulai beraksi.

Ismarofi mengambil limbah itu dari tetangganya yang pedagang sayur. Lalu membuat mesin modifikasi untuk membentuk batok kelapa itu sesuai dengan motif yang dinginkan. Setelah itu, batok yang sudah berbentuk motif tertentu ditempel pada media kertas karton yang dilapisi kain.

“Baru setelah itu dijahit memakai benang Nylon dan difinishing. Setelah itu dirangkai pakai furing dikasih handle . Jadi tas batok deh,” jelasnya ditemui di workshopnya.

Inilah awal perjalanan tas batok di Blitar. Mulanya tas produksi Ismarofi dipandang sebelah mata. Dia menawarkan tas itu door to door, dan sering ditolak. Padahal harga tasnya waktu itu sekitar Rp 25 ribuan.

“Tahun 2009 itu, tas produksi saya seperti enggak ada yang mau. Baru pada 2011 keponakan saya yang pinter komputer menawarkan di dunia maya, online dan hasilnya luar biasa ,” tuturnya.

Selain banyak yang langsung datang ke workshopnya, pembeli juga sering memesan secara online. Sejak itu, dia berinovasi dengan kerajinan batok yang berlabel Coco Art. 

Ada 34 model tas yang menjadi koleksinya. Ukurannya bervariasi dengan harga dari Rp 25 ribu sampai Rp 125 ribu. Ismarofi juga memproduksi kalung dengan harga Rp 15 ribu, gelang dan gantungan kunci masing-masing seharga Rp 5 ribu.

Semakin ramainya pesanan, membuat istrinya , Ririn Rikawati (38) harus ikut terjun membantu usaha sang suami. Ririn yang telah 7 tahun bekerja di optik memilih mundur dari pekerjaannya.

“Karena desain itu kebanyakan saya yang buat, jadi biar maksimal kerja total, akhirnya saya resign ,” ungkap wanita berhijab ini.