Budaya dan Suku Kaili Kota Palu Sulawesi Tengah

0
808
Sulawesi - Suku Kaili. Imam (bayasa) untuk Paloe 1910 Suku Kaili: sultansinindonesieblog.wordpress.com/suku-suku/suku-kaili...

bedaberita.com | Berbicara mengenai budaya adalah salah satu hal yang selalu di perbincangkan di seluruh dunia, dimana budaya adalah suatu kebiasaan atau cara hidup yang terus berkembang yang dimiliki oleh satu atau beberapa kelompok orang, kemudian terus di wariskan dari generasi ke generasi. Berdasarkan hasil dari penelitian bahwa budaya terbentuk sehingga terdapat banyak unsur sangat jelas yang termasuk, Sistem politik, agama, bahasa, adat istiadat, pakaian, perkakas, bangunan, dan karya seni.

Suku Kaili

Suku Kaili, adalah salah satu suku di provinsi Sulawesi Tengah yang tersebar di kabupaten Donggala, kabupaten Sigi dan di kota Palu. Selain itu suku Kaili ini juga tersebar di seluruh daerah lembah antara gunung Gawalise, gunung Nokilalaki, Kulawi dan gunung Raranggonau. Mereka juga menghuni wilayah pantai timur Sulawesi Tengah, meliputi kabupaten Parigi-Moutong, kabupaten Tojo-Unauna dan kabupaten Poso.

Dalam kalangan orang Kaili, mereka menyebut diri mereka dengan istilah “to” di depan nama suku, yaitu To Kaili. “To” berarti “orang”, “To Kaili” berarti “orang Kaili”.
Istilah Kaili, menurut penuturan masyarakat suku Kaili, adalah berasal dari nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di kawasan ini, terutama di tepian sungai Palu dan Teluk, yaitu pohon Kaili.

Bahasa Kaili Yang Unik (Sulawesi Tengah)

Bahasa Kaili, adalah bahasa utama suku Kaili. Bahasa Kaili memiliki 20 dialek bahasa, yang memiliki karakter sendiri serta perbedaan masing-masing antara satu dialek dengan dialek yang lain. Keunikan bahasa Kaili adalah kadang 2 kampung yang hanya berbeda jarak cuma 2 km saja, memiliki bahasa yang berbeda .

Salah satu dialek bahasa Kaili, adalah dialek Ledo, yang diucapkan oleh suku Kaili Ledo. “Ledo” berarti “tidak”. Bahasa Ledo ini dapat digunakan berkomunikasi dengan bahasa-bahasa Kaili lainnya. Bahasa Ledo yang asli (belum dipengaruhi bahasa para pendatang), ditemukan di sekitar Raranggonau dan Tompu. Sementara, bahasa Ledo yang dipakai di daerah kota Palu, Biromaru, dan sekitarnya sudah terasimilasi dan terkontaminasi dengan beberapa bahasa para pendatang terutama bahasa Bugis dan bahasa Melayu.

Mata Pencaharian Suku Kaili

Suku Kaili: sultansinindonesieblog.wordpress.com/suku-suku/suku-kaili

Jika di analisa secara detail dan sangat jelas bahwa kehudupan masyarakat atau suku kaili ini sangatlah indah dan bijaksana, dimana mereka memiliki mata pencaharian dengan bercocok tanam di ladang dan di sawa dan lain dari itu ada juga yang bekerja sebaga peternak ayam. Dengan bercocok tanam masyarakat kaili dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan begitu lengkap dan tanpa kekurang bahan makanan lainnya.

Dan diketahui bahwa sebagian besar masyarakat kaili lebih banyak bercocok tanam dengan menanam, jagung, padi, kelapa, kopi, cengkeh dan tanaman lainnya. Namun pada masa sekarang banyak juga masyarakat Kaili yang mengumpulkan Damar, kayu hitan, dan rotan yang diperirakan dengan harga yang cukup mahal. Sebagian dari masyarakat Kaili sering menangkap ikan di pantai dan di sungai. Suku Kaili juga dikenal dengan perajin atau penenun kain tradisional yang biasanya di sebut Sarung Donggala.

Kepercayaan dan Agama suku kaili

Sulawesi – Suku Kaili. Amulets, c1911 sultansinindonesieblog.wordpress.com/suku-suku/suku-kaili…

Di masa sekarang ini masyarakat Kaili dikenal banyak menganut agama islam atau kepercayaan agama islam. Dan berdasarkan pencatatan sejarah suku kaili, bahwa sebelum agama islam masuk pada abad ke – 17, masyarakat kaili masih menganut kepercayaan yang biasa mereka sebut “Balia” atau pemujaan kepada para dewa-dewa dan roh nenek moyang mereka. Ada banyak dewa tertinggi yang biasa mereka sebut dengan banyak gelar seperti, Topebagi “Sang penentu” Topejadi “Sang Pencipta”, dan ketika agama islam mulai masuk ke wilayah sulawesi tengah masyarakat Kaili mulai mengenal istilah Alatala bagi dewa tertingginya.

Masayarakat Kaili juga sangat peka terhadap sikap saling menolong, dimana dalam kehidupan masyarakat kaili sangat terlihat jelas bahwa, bergotong royong dan saling membantu sangatlah penting bagi mereka, dan bisa dilihat pada upacara-upacara adat yang mereka lakukan bahwa kekerabatan dan persaudaraan sengatlah mereka utamakan dalam kehidupan sehari-hari. Kekerabatan dalam bahasa kaili ialah “Sintuvu”, dan bisa dilihat dengan jelas bahwa kata “Sintuvu” sangat mempererat hubungan sosial dalam masyarakat suku kaili.

Seni Tari Suku Kaili yang sangat terkenal

https://www.sumber.com/jalan-jalan-kuliner/sulawesi-tengah/budaya-sulawesi-tengah/sumber/tari-pamonte.html

Masyarakat kaili memiliki seni tari yang sangat terkenal di Sulawesi Tengah, yaitu seni tari “Pamonte”. Tarian pamonte ini sering diperagakan oleh para wanita masyarakat kaili ketika menyambut musim panen padi tiba, dan tari Pamonte ini juga sering dipertunjukan atau diperlihatkan pada acara penyambutan tamu penting dan Festival budaya. 

Makna dari seni tari Pamonte

http://wadaya.rey1024.com/budaya/detail/tari-pamonte-1

Makna dari tari Pamonte ini sangatlah penting bagi masyarakat suku kaili dimana tari pamonte ini menggambarkan kegembiraan dan rasa syukur yang sangat mendalam ketika mereka mendapatkan hasil panen yang mereka dapatkan. Perasaan bahagia akan hasil yang mereka dapatkan akan terus mempererat hubungan untuk terus bergotong royong dan bahu membahu untuk menciptakan kebersamaan dan kekerabatan yang tinggi terhadap sesama.

Suku Kaili ini adalah salah satu suku yang ada di indonesia yang juga punya peranan penting dalam sosila budaya, yang dimana suku Kaili ini memilki ragam bahasa yang masih dipertahankan hingga sekarang. Dan kita sebagai masyarakat Indonesia wajib menjaga kelestarian budaya yang ada.