11 Akibat Cuaca Yang Mempengaruhi Kesehatan dan Perilaku

0
283
(Foto: Livescience)

Perubahan iklim ternyata tak lagi berdampak hanya pada lingkungan. Kondisi cuaca dan temperatur ternyata juga berpengaruh besar terhadap fisik dan mental seseorang. Artinya, perubahan cuaca ekstrim yang belakangan kerap terjadi juga dapat berdampak langsung terhadap manusia.

Dikutip dari Huffington Post, ada 11 hal yang dapat digunakan untuk mendeteksi bahwa temperatur lingkungan dapat memengaruhi keseluruhan perilaku dan sikap manusia.

1. Temperatur sejuk dapat membantu tidur.
Bunga tidur yang indah biasanya terjadi pada lingkungan yang sejuk. Menurut Natalie Dautovich dari National Sleep Foundation, temperatur ideal untuk tidur adalah sekitar 15,5-18 derajat celsius. Hal itu dikarenakan ketika suhu tubuh turun saat itu otak bersiap untuk tidur. Kebalikannya, udara yang panas dan iklim yang lembab dapat mengganggu kualitas tidur.

2. Iklim sedang dapat memberikan perasaan lebih bahagia.
Para periset menemukan adanya kaitan antara iklim yang sedang (atau hangat) dengan perasaan bahagia. Tempat-tempat yang beriklim panas sekali, sangat mampu mempengaruhi emosi seseorang. 

3. Hujan dapat membuat alergi kian parah.
Musim semi sering membawa pilek ke banyak orang. Tapi jika Anda mendapat alergi musiman sepanjang tahun ini, maka dapat dipastikan alergi akan kian parah saat musim hujan. 

4. Musim dingin adalah musim rentan sakit.
Walau flu dapat menyerang kapan saja di sepanjang tahun, namun ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang pasti sakit pada musim dingin. Riset menemukan bahwa sistem imun manusia menjadi rentan pada saat masa pancaroba, perubahan dari musim panas ke musim dingin. Selain itu, pada musim dingin, tak hanya manusia yang terperangkap di dalam rumah, namun bakteri-bakteri di dalam tubuh juga demikian.

5. Cuaca ekstrim dapat memicu masalah psikologis.
Orang-orang yang tinggal di wilayah dengan iklim yang terbilang intens yakni yang sering badai dan tornado, lebih rentan mengalami gangguan kejiwaan. Bencana badai disebut dapat menyebabkan stress, sedangkan pasca bencana dapat menyebabkan gangguan psikologis berkepanjangan bagi orang yang tinggal di daerah bencana.0

6. Musim salju dapat memengaruhi kesehatan mental.
Masalah kesehatan mental yang berhubungan dengan depresi, paling sering terjadi pada bulan-bulan musim dingin, ketika hari lebih pendek dan lebih gelap. “Bagi orang yang menyadari adanya pola rutin yang dia rasakan seperti merasa sedih, cemas, dan mood yang tidak stabil, sebaiknya bertemu dengan dokter untuk mendiagnosa hal itu,” ujar Profesor Psikiatri Pusat Depresi di Universitas Michigan, Michelle Riba, kepada Huffington Post.

7. Tempat hangat dapat membuat seorang lebih kreatif
Riset yang dilakukan Universitas Michigan mengatakan berada di luar ruang pada saat musim semi berpengaruh dalam meningkatkan pikiran-pikiran kreatif. “Berada di luar dengan udara yang menyegarkan dapat menawarkan penyegaran otak,” kata salah satu periset, Matthew Keller. 

8. Hari yang cerah sangat meningkatkan suasana hati.
Meski tak memberikan dampak yang besar, namun cuaca yang cerah dapat memberikan psikologis yang lebih bahagia. Sebuah studi yang dilakukan di Universitas Michigan menemukan bahwa orang-orang yang menghabiskan waktu setidaknya setengah jam di luar ruang, dengan kondisi cuaca yang menyenangkan, tampak memiliki mood bahagia sepanjang hari. 

9. Cuaca panas yang berlebih dapat memicu risiko sakit jantung.
Temperatur udara yang meningkat dapat mempengaruhi kesehatan jantung. Kedua, jika seseorang mengalami dehidrasi dan terpapar serangan panas yang cukup tinggi maka dapat berpotensi memicu kerusakan otak. Hal itu dapat dipastikan berpengaruh juga pada perilaku.

10. Tekanan darah rendah pada saat musim panas.
Tak heran jika Anda merasa lebih santai atau malas-malasan pada bulan-bulan musim panas. Riset menunjukkan bahwa tekanan darah manusia pasti menurun pada saat musim panas. Hal ini terjadi karena temperatur rendah menyebabkan pembuluh darah Anda menyempit, yang dapat menyebabkan terjadi lonjakan tekanan darah.

11. Temperatur udara yang panas dapat mempengaruhi mood.
Sebuah analisa yang dilakukan di Eropa menemukan terjadi 10 persen peningkatan di atas rata-rata kelahiran anak selama bulan Maret. Hal itu menandai bahwa pembuahan banyak terjadi saat sekitar bulan Juni. Riset yang sama juga menemukan bahwa, pada musim panas testosteron pria dan waktu ovulasi wanita meningkat.