Irvins Salted Egg Cerita Dibalik Suksesnya Dua Anak Muda Indonesia

0
125

Seperti yang dilansir IDNtimes Beberapa calon penumpang di Terminal 3 Bandara Changi, Singapura terlihat antre di sebuah kedai yang menjual camilan pada (17/9) lalu. Mereka antri dan memborong beberapa bungkus camilan yang sepintas terlihat bisa kamu beli di pusat perbelanjaan mana pun. Namun, ini bukan sekedar camilan, karena yang diantre adalah Irvins Salted Egg. 

Sesuai namanya camilan ini terbuat dari campuran telor asin. Bagi kamu yang sedang berada di Negeri Singa, maka wajib mencicipi camilan ini. Selain karena dibuat oleh dua anak muda dari Indonesia, rasanya juga endes banget!

IDN Times sendiri sudah mencicipi ketika diundang oleh Singapore Tourism Board (STB) pada pertengahan September lalu. Adalah kakak beradik Irvin Gunawan dan Ircahn Gunawan yang kali pertama memiliki ide untuk berjualan camilan dengan logo bebek tersebut. 

Saking larisnya, di gerainya tertulis setiap pembeli maksimal hanya dibolehkan memborong tujuh bungkus. Maksudnya, biar pembeli yang lain juga kebagian. 

Produk Irvins ini bahkan turut ditampilkan saat pagelaran Formula 1 Singapura pada bulan lalu lho! Keren ya. Penasaran, bagaimana awal mula Irvin dan Ircahn membuat camilan dari bahan telor asin ini? Simak kisahnya. 

(Calon penumpang di Terminal Changi antre membeli Irvins) IDN Times

1. Semula Irvin dan Ircahn ingin membuka restoran di Singapura 

Dikutip dari keterangan tertulis Singapore Tourism Board (STB), awal mula menciptakan produk cemilan Irvins Salted Egg dilakukan secara tidak sengaja. Usai menamatkan kuliah di Universitas Monash, Australia, Irvin kembali ke Negeri Singa. Ia dan keluarga memang sudah bermukim di sana sejak tahun 1997 lalu. 

Pria kelahiran tahun 1985 itu kemudian terpikir ingin membuka restoran makanan Indonesia. Maka, jadilah di tahun 2008, ia membuka restoran pertama bernama “Irvin’s” di area River Valley. Restoran pertama yang ia buka menyajikan khusus menu makanan laut alias seafood. 

“Saya menemukan ada lokasi yang bagus di dekat Great World City dan belum ada restoran seafood yang menyajikan chili crab dan sejenisnya di sana,” ujar Irvin. 

Ia kemudian mencari koki untuk bisa memasak di restorannya. Ternyata saat dilakukan wawancara, koki itu memiliki keahlian untuk menghasilkan makanan dari bahan telor asin. 

“Akhirnya, kami masukan ke dalam menu,” kata dia. 

Saat itu, si koki menghasilkan empat jenis camilan yakni salted egg crab (kepiting telor asin), salted egg chicken (ayam telor asin), salted egg potato chips (keripik kentang ikan asin) dan salted egg fish skin (kulit ikan telor asin). 

“Rupanya, yang dua (varian) terakhir banyak disukai orang. Customer suka restoran suka minta agar ditake-away. Akhirnya, kami buat made to order. Lama-lama kami berpikir kenapa enggak dibuat dalam toples, jadi kalau orang mau bawa ya tinggal ambil saja tanpa menunggu dibuat dulu,” tutur dia. 

(Produk Irvins Salted Egg) IRVINS

2. Produknya langsung laris dijual dalam waktu dua bulan usai diproduksi

Tidak tanggung-tanggung, begitu produknya diciptakan untuk bisa dibawa pulang, keduanya memproduksi lebih banyak. Hasilnya, kombinasi resep yang sempurna, waktu yang tepat dan sedikit keberuntungan, Irvins Salted Egg langsung diserbu pembeli dalam kurun waktu dua bulan saja. 

Dari yang semula Irvins Salted Egg dijual dalam toples transparan dan tutup berwarna merah, kemudian produknya berevolusi menjadi kemasan berwarna hitam dengan logo bebek seperti yang kalian lihat selama ini. Penjualan produk itu juga bisa terealiasi berkat bantuan dari Ircahn, seorang fotografer profesional. 

“Kami akhirnya memilih kemasan kantong, karena toples tidak memiliki pembatas yang baik,” tutur Ircahn. 

Seiring dengan peralihan dari toples ke kemasan, Irvins pun membuka gerai pertamanya di Vivo City. Dari sana, mereka kemudian membuka gerai lainnya, termasuk di Terminal 2 dan 3 Bandara Changi. Buat kalian yang sengaja ingin membawa produk ini sebagai oleh-oleh ke Tanah Air, maka siap-siap untuk antre ya.

3. Berbisnis makanan di Singapura harus segera dapat untung, kalau tidak akan rugi

Menurut Irvin, tidak mudah untuk berbisnis food & beverage di Singapura. Modal yang dibutuhkan sangat mahal. 

“Di Singapura, kalau bisnis tidak ramai ya tamat. Biayanya besar, karena sumber daya manusianya, bahan mentah, dan harga sewa tempat beberapa kali lipat kalau dibandingkan dengan di Indonesia,” kata dia. 

Namun, di sisi lain, kalau sukses maka bisa menghasilkan keuntungan dalam waktu cepat. Kendati membutuhkan biaya yang tidak sedikit, ia tetap suka berbisnis di Negeri Singa. Kenapa? Karena aturannya sangat jelas. 

“Selama peraturan tersebut ditaati, maka bisnis akan berjalan lancar. Kompetisi di sini sangat adil,” tuturnya. 

Ia pun juga diuntungkan dengan kualitas infrastruktur di Singapura yang baik.

(Irvin’s Salted Egg di acara Formula 1 Singapura) IDN Times

4. Irvins Salted Egg belum buka cabang resmi di Indonesia

Sayangnya, kendati pembeli produk Irvins Salted Egg juga banyak yang berasal dari Indonesia, Irvin dan Ircahan belum membuka gerai atau cabang di Tanah Air. Padahal, yang ngefans terhadap produk ini tidak kalah banyak dengan warga di Singapura. 

Khusus bagi warga Indonesia yang ingin membeli Irvin’s Salted Egg, maka harus memesan melalui online. IDN Times sempat mengecek, Irvins Salted Egg di online dijual dengan harga sekitar Rp115 ribu untuk berat 105 gram. Sementara, untuk porsi lebih banyak yakni 230 gram, dijual seharga Rp240 ribu. 

Harganya memang lebih mahal dibandingkan dengan camilan sejenis. Tapi worthed kok. Sementara, di Singapura, produk Irvins Salted ukuran besar dijual seharga Sin$16, sedangkan ukuran kecil dijual seharga Sin$8. 

“Sepertinya sih sudah ada (cabang). Tapi itu sifatnya re-seller di e-commerce. Jadi, mereka beli di sini (Singapura) untuk dijual lagi di sana,” tutur Irvin. 

Mereka justru membidik Filipina menjadi target pasar selanjutnya. Pada Januari lalu, mereka membuka cabang selanjutnya di SM Mall of Asia. 

Irvins pun sukses merambah ajang internasional sekelas Formula 1 lho. IDN Times menyaksikan sendiri betapa produk Irvins disajikan sebagai salah satu produk yang dapat dinikmati oleh pengunjung selama pagelaran jet darat itu digelar di Negeri Singa. 

(Varian Irvins Salted Egg) www.tokopedia.com

5. Irvin dan Ircahn berharap bisa mengekspor Irvins Salted Egg ke lebih banyak negara

Usai menjadi produk camilan papan atas, Irvin pun mengurai harapan agar bisa mengekspor produknya ke lebih banyak negara. Sejak awal, ia tidak menyangka camilan Irvins Salted Egg akan disukai oleh banyak orang. 

“Ke depannya, kami ingin terus membesarkan brand ini, menjangkau dan mengekspor ke lebih banyak negara,” kata dia. 

Sementara, Ircahn berharap varian produk yang dijual akan bertambah. Ia pun berharap dalam lima tahun ke depan, kondisi bisnisnya semakin membaik.