Upaya Pelestarian Burung Maleo di Sulawesi

0
1845
Burung Maleo (Maleo Senkawor), burung endemik Sulawesi yang berjuang menghindari kepunahan.

Burung Maleo, atau Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo) ditetapkan sebagai satu dari 25 satwa prioritas terancam punah, yang populasinya akan ditingkatkan 10% pada 2015-2019.

Burung endemik/khas Sulawesi ini memiliki keunikan tersendiri. Burung Maleo tidak mengerami telurnya hingga menetas, malah justru memanfaatkan panas bumi dengan cara mengubur telur didalam tanah pasir yang hangat.

Lokasi peneluran burung Maleo pun komunal, ibarat rumah sakit bersalin pada manusia. ‘Rumah bersalin’ Maleo berada di daerah berpasir seperti pantai atau di tanah yang mendapatkan panas vulkanik, baik hutan primer dataran rendah, maupun perbukitan.

Induk maleo biasanya masuk ke lokasi peneluran dengan berjalan di permukaan tanah dan bertengger pohon-pohon sekitar untuk memantau kondisi. Lokasi yang bersih dari rerumputan bernaung tajuk pohon merupakan indikasi lokasi yang disenangi ketimbang hamparan bertajuk terbuka atau dipenuhi semak.

Setelah telur seukuran telapak tangan manusia tersebut menetas, anak Maleo akan berusaha naik ke permukaan tanah dan melompat menghadapi kerasnya kehidupan di alam Sulawesi. Proses ini bisa memakan waktu hingga dua hari!!

Anak burung maleo, berhasil mengeluarkan diri dari timbunan pasir selama 2 hari. (Hanom Bashari)

Eksistensi Ancaman Bagi Burung Maleo.

Dua tipe lokasi peneluran yang memanfaatkan panas matahari seperti pantai berpasir seringkali berbenturan dengan perkembangan permukiman masyarakat dan pengembangan pariwisata. Sedangkan lokasi peneluran yang memanfaatkan panas bumi yang umumnya berada di tengah daratan pun digunakan untuk kegiatan wisata.

Contoh pemukiman yang telah mematikan lokasi peneluran ada di Tulabolo (Gorontalo) dan Batuputih (Sulawesi Utara). Selain itu, lokasi peneluran yang telah hilang ada di sepanjang semenanjung utara Sulawesi, pantai utara dan barat Sulawesi Tengah, serta pantai barat Sulawesi Barat. Sedangkan lokasi peneluran yang menjadi objek wisata terjadi di Bakan (Sulawesi Utara).

Ancaman lain berupa hilangnya koridor pergerakan maleo dari hutan ke lokasi peneluran yang disebabkan oleh alih fungsi dan tutupan lahan. Contohnya pembangunan jalan lintas (trans) Sulawesi, pembukaan lahan untuk area pertanian monokultur dan musiman, serta perluasan permukiman dan aktivitas penggunaan lahan lain oleh manusia.

Beberapa lokasi peneluran aktif yang mengalami ancaman ini seperti terjadi di Muara Pusian (Sulawesi Utara), Panua (Gorontalo), Bakiriang (Sulawesi Tengah), dan Taima (Sulawesi Tengah).

Selain manusia, burung maleo tak luput dari ancaman predator alami seperti biawak dan tikus. Tak lupa tumbuhan invasif yang menutupi area peneluran. Mulai dari jenis tembelekan (Lantana camara) dan alang-alang (Imperata cylindrical), hingga Ipomoea pes-caprae di pantai.

Khusus untuk beberapa lokasi peneluran aktif, penempatan penjaga petugas konservasi dan masyarakat terbukti efektif. Dengan membuat pagar yang dibangun pada sisi berbatasan langsung dengan area non-konservasi atau lahan budidaya. Pemagaran ini bertujuan untuk mengurangi akses predator, manusia, atau satwa ternak yang berpotensi mengganggu proses maleo bertelur.

Lokasi peneluran burung maleo yang selalu dijaga dari segala potensi ancaman. (Hanom Bashari)

Program Konservasi Burung Maleo

Berdasarkan kajian Renne Dekker (1986), Marc Argeloo (1990), Stuart Buchart dan Gillian Baker (1998), serta Antonia Gorog dkk. (2003), terdapat 142 lokasi peneluran maleo yang tercatat di Sulawesi dan Buton. Pada tahun 2017, hanya ada 20% lokasi peneluran yang masih aktif atau diperkirakan aktif. Lokasi tersisa ini, sebagian besar berada di kawasan konservasi.

Menurunnya jumlah lokasi peneluran ditambah menurunnya kualitas habitat membuat populasi maleo semakin berkurang. Berdasar catatan Lembaga konservasi burung dunia BirdLife International, perkiraan populasi burung maleo sekitar 8.000-14.000 individu. Maka sejak tahun 2002, IUCN menetapkan burung maleo dalam status Genting (Endangered/EN).

Upaya pelestarian burung maleo tidak saja bertumpu pada pengelolaan dan perlindungan lokasi peneluran. Pelestarian maleo harus dipandang sebagai kesatuan bentang alam secara menyeluruh, dengan melibatkan semua pihak.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menetapkan maleo sebagai satu dari 25 satwa terancam punah yang diprioritaskan untuk ditingkatkan populasinya sebanyak 10% pada periode 2015-2019.

Hal yang dihadapi dalam program konservasi burung maleo adalah belum adanya keseragaman sistem pemantauan populasi. Sehingga tidak ada informasi yang cukup untuk menyatakan apakah populasi maleo secara nyata meningkat atau menurun.

Program Konservasi Burung Maleo sebagai satwa prioritas sejatinya harus diterapkan secara nasional. Dengan sinergis melibatkan berbagai unsur dari mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga ke masyarakat setempat. Dilengkapi oleh perguruan tinggi, lembaga penelitian dan lembaga non-pemerintah.

 

 

 

sumber: Hanom Bashari, Mongabay